Jumat, 04 Maret 2011

Kepribadian Sehat ditinjau dari aliran : Psikoanalisa, Behavioristik, Humanistik dan Pendapat Allport tentang Kesehatan Mental


PENDAHULUAN

Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
Ciri-ciri Kepribadian yang sehat :
1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustasi, tetapi dengan sikap optimistk
4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah – masalah kehidupan yang dihadapinya.
5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
7.Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
8. Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
9. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
11. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).




*        Kepribadian sehat ditinjau dari aliran :
Ø   Psikoanalisa
Psikoanalisis disebut sebagai depth psychology yang mencoba mencari sebab-sebab perilaku manusia pada alam tidak sadarnya. Tokoh dari aliran ini adalah Sigmund Freud seorang neurolog berasal dari Wina, Austria akhir abad ke-19. Aliran ini berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens).Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa kea lam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita, yaitu:
a.        Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
b.        Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.
c.         Ego, adalah pengawas realitas.
Sebagai contoh adalah berikut ini: Anda adalah seorang bendahara yang diserahi mengelola uang sebesar 1 miliar Rupiah tunai. Id mengatakan pada Anda: “Pakai saja uang itu sebagian, toh tak ada yang tahu!”. Sedangkan ego berkata:”Cek dulu, jangan-jangan nanti ada yang tahu!”. Sementara superego menegur:”Jangan lakukan itu!”.Pada masa kanak-kanak kira dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh Freud disebut sebagai primary process thinking. Anak-anak akan mencari pengganti jika tidak menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya (bayi akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat dot misalnya). Sedangkan ego akan lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahap secondary process thinking. Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap untuk memilih tidak jajan demi ingin menabung misalnya). Walau begitu kadang kala pada orang dewasa muncul sikap seperti primary process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan misalnya ketika kita dimarahin oleh atasan, kita memukul tembok untuk memuaskan rasa amarah kita.
Proses pertama adalah apa yang dinamakan EQ (emotional quotient), sedangkan proses kedua adalah IQ (intelligence quotient) dan proses ketiga adalah SQ (spiritual quotient).
Ø Behavioristik
Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang. Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing eksperimennya yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.
·                                   Prinsip dasar behaviorisme:
1)                     Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
2)                     Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
3)                     Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4)                     Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5)                     Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.

Ø Humanistik
Humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan  besar psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran Humanistik merupakan konstribusi dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl Rogers.
Walaupun psikolog humanistik dipengaruhi oleh psikoanalisis dan behaviorisme, namun aliran ini mempunyai ketidaksesuaian yang sangat berarti dengan psikoanalisis dan behaviorisme. Tekanan utama yang oleh behavioris dikenakan pada stimuli dan tingkah laku yang teramati, dipandang Psikologi Humanistik sebagai penyederhanaan yang keterlaluan yang melalaikan diri manusia sendiri dan pengalaman-pengalaman batinnya, tingkah lakunya yang kompleks seperti cinta, nilai-nilai dan kepercayaan, begitu pula potensinya untuk mengarahkan diri dan mengaktualisasikan diri. Maka psikologi humanistik sangat mementingkan diri (self) manusia sebagai pemersatu yang menerangkan pengalaman-pengalaman subjektif individual, yang banyak menentukan tingkah lakunya yang dapat diamati. Psikolog-psikolog Humanistik pun tidak menyetujui pandangan pesismis terhadap hakekat manusia dan dicerminkan oleh psikoanalisis Freud maupun pandangan netral (tidak jahat dan tidak baik) kaum behavior.
Kedua aliran itu memandang tingkah laku manusia secara salah yaitu sebagai tingkah laku yang seluruhnya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar kekuasaannya; apakah kekuatan-kekuatan itu berupa motif-motif yang tak disadari atau conditioning dari masa kanak-kanak dan pengaruh lingkungan. Bertentangan dengan kedua pandangan aliran tadi, aliran Humanistik menyetujui sebuah konsep yang jauh lebih positif mengenai hakekat manusia, yakni memandang hakekat manusia itu pada dasarnya baik. Perbuatan-perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri dipandang sebagai tingkah laku patologik yang disebabkan oleh penolakan dan frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik itu. Seorang manusia tidak dipandang sebagai mesin otomat yang pasif, tetapi sebagi peserta yang aktif yang mempunyai kemerdekaan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan nasib orang lain.
Walaupun psikolog humanistik dipengaruhi oleh psikoanalisis dan behaviorisme, namun aliran ini mempunyai ketidaksesuaian yang sangat berarti dengan psikoanalisis dan behaviorisme. Tekanan utama yang oleh behavioris dikenakan pada stimuli dan tingkah laku yang teramati, dipandang Psikologi Humanistik sebagai penyederhanaan yang keterlaluan yang melalaikan diri manusia sendiri dan pengalaman-pengalaman batinnya, tingkah lakunya yang kompleks seperti cinta, nilai-nilai dan kepercayaan, begitu pula potensinya untuk mengarahkan diri dan mengaktualisasikan diri. Maka psikologi humanistik sangat mementingkan diri (self) manusia sebagai pemersatu yang menerangkan pengalaman-pengalaman subjektif individual, yang banyak menentukan tingkah lakunya yang dapat diamati.
Psikolog-psikolog Humanistik pun tidak menyetujui pandangan pesismis terhadap hakekat manusia dan dicerminkan oleh psikoanalisis Freud maupun pandangan netral (tidak jahat dan tidak baik) kaum behavior. Menurut aliran humanistik, kedua aliran itu memandang tingkah laku manusia secara salah yaitu sebagai tingkah laku yang seluruhnya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar kekuasaannya; apakah kekuatan-kekuatan itu berupa motif-motif yang tak disadari atau conditioning dari masa kanak-kanak dan pengaruh lingkungan. Bertentangan dengan kedua pandangan aliran tadi, aliran Humanistik menyetujui sebuah konsep yang jauh lebih positif mengenai hakekat manusia, yakni memandang hakekat manusia itu pada dasarnya baik. Perbuatan-perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri dipandang sebagai tingkah laku patologik yang disebabkan oleh penolakan dan frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik itu. Seorang manusia tidak dipandang sebagai mesin otomat yang pasif, tetapi sebagi peserta yang aktif yang mempunyai kemerdekaan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan nasib orang lain.

*        Pendapat Allport tentang kesehatan mental
Allport percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar (kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi). Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tidak sadar . individu yang sehat berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing dia dan dapat mengontrol kekuatan itu juga.
Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma ataupun konflik pada masa kanak-kanak. Pusat dari kepribadian kita adalah intensi-intensi kita yang sadar dan sengaja, misalnya harapan, aspirasi dan impian. Manusia didorong untuk mereduksikan tegangan-tegangan, menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada tingkat yang paling rendah dan menjaga satu keadaan keseimbangan homeostatis internal atau “homeostatis”.
Manusia yang sehat memiliki kebutuhan akan sensasi-sensasi dan tantangan tantangan yang bervariasi. Orang yang sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan, dan visi itu menyatukan kepribadiannya dan membawa orang itu ke tingkat stress yang lebih tinggi.
Menurut Allport, kebahagiaan bukanlah suatu tujuan dalam diri, tetapi hasil sampingan dari integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi dan tujuan. Tujuan-tujuan yang dicita-ditakan oleh orang yang sehat pada hakikatnya tidak dapat dicapai. Orang-orang yang matang dan sehat tidak puas apabila dalam melakukan sesuatu hanya dalam taraf sedang atau memadai, mereka baru merasa puas apabila melakukan sesuatu dengan kemampuan maksimal mereka.




Kesimpulan

Kepribadian sehat yang dilihat dari aliran psikoanalisa lebih menakankan kepada alam bawah sadar dan analisa mimpi, sedangkan aliran behaviorisme manusia dipandang sebagai mesin. Kedua aliran ini ternyata mempunyai kesamaan yaitu mengabaikan potensi-potensi yang ada pada manusia. Aliran humanistik mempunyai keinginan untuk lebih baik dan lebih banyak dari pada yang ada didalam diri individu itu sendiri. Jadi aliran humanistik tidak mengabaikan potensi-potensi yang ada pada manusia dan aliran ini bisa menekan kekuatan-kekuatan negatif dengan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia.
Menurut Allport manusia adalah makhluk rasional, diatur oleh tujuan, harapan sekarang (masa kini)dan masa datang, bukan di masa lalu. Allport mengemukakan tema–tema pokok dari teori kepribadian, tema tersebut adalah: Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar yang tidak dapat dipengaruhi, kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh taruma dan konflik masa kanak– kanak, antara orang yang sehat dan orang neurotis tidak ada kesamaan secara fungsional, Allport lebih memfokuskan mempelajari orang dewasa yang matang daripada fokus pada orang neurotis. Dalam perkembangan pribadi yang sehat Allport berpendapat bahwa masa kanak-kanak mempunyai andil dalam mewujudkan pribadi yang sehat. Menurutnya peranan orang tua (ibu) mempengaruhi perkembangan proprium anak. Jika seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup, perasaan aman, akan menumbuhkan identitas diri dan diri akan meluas, jika yang terjadi sebaliknya maka akan terbentuk jiwa yang tidak sehat. Menurut Allport terdapat tujuh kriteria kematangan yang merupakan pandangan tentang sifat khusus dari kepribadian yang sehat, yakni: perluasan perasaan diri, hubungan diri yang hangat dengan orang lain, keamanan emosional, persepsi realistis, ketrampilan dan tugas, pemahaman diri, filsafah hidup yang menyatukan.




REFRENSI

Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma. 
Hall S. Calvin, dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta: Kanisius.
Schultz Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Schultz Duane. 1991. Pengantar Psikologi Kepribadian Non Psikoanalitik. Yogyakarta : Kanisius.

Selasa, 01 Maret 2011

Kesehatan Mental di Lingkungan Sekolah 2

Pendahuluan

Kondisi lingkungan sekolah yang saat ini kita jumpai hampir semua belum memadai, baik dari  segi materi dan juga segi komunikasi antara guru dengan murid,ataupun sebaliknya. Sering kita menyaksikan kekerasan di dalam lingkungan sekolah yang terjadi belakangan ini. Berita tentang kekerasan guru terhadap murid yang tidak mengerjakan PR ataupun murid itu tertidur di kelas, kurangnnya komunikasi yang tidak berjalan efektif membuat sang guru berbuat semena-mena dalam hal menghukum murid. Dalam hal ini saya tidak menyebutkan apa-apa saja yang terjadi,tetapi yang menjadi perhatian saya ialah kondisi mental dari murid tersebut setelah menerima hukuman dan akibatnya membuat mental sang anak menjadi jatuh dan sering menjadi alasan sang murid malas datang ke sekolah, belum lagi banyaknya tugas-tugas dari guru-guru yang lain. Perlu adanya evaluasi yang bisa menjembatani faktor tersebut, peran guru bimbingan konseling sangatlah di butuhkan sebagai sarana komunikasi murid yang menghadapi suatu permasalahan agar tidak menganggu belajarnya.
Agar semua berjalan dengan efektif, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh tenaga pendidik adalah :
1.       Komunikasi, ini sangat penting di perhatikan oleh tenaga pendidik supaya suasana kelas berjalan dengan kondusif.
2.       Selalu berhubungan dengan anak didik agar murid merasa nyaman dan tenang belajar di ruang kelas.
3.       Mengikuti perkembangan zaman.
Dalam kehidupan perlunya pola kesehatan yang menunjang bagi kesehatan jasmani dan juga kesehatan rohani. Ini semua demi tercapai dan terwujudnya kesehatan mental yang selalu terjaga. Seperti yang tertulis dalam UU no 23 tahun 1992 yang berbunyi “ Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis “
Menurut Zakiah Daradjat(1985:10-14) mendefinisikan kesehatan mental dengan beberapa pengertian :
1.       Terhindarnya orang dari gejala - gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala - gejala penyakit jiwa(psychose).
2.       Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup.
3.       Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagian diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan - gangguan dan penyakit jiwa.
4.       Terwujudnya keharmonisan yang sungguh - sungguh antara fungsi - fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem - problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya.
Dengan berpijak pada pengertian di atas, kesehatan mental menurut saya adalah terhindarnya orang dari gejala - gejala gangguan jiwa serta mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri,dengan orang lain maupun dengan masayarakat dimana seseorang itu berada dan bisa mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin untuk mewujudkan suatu keharmonisan yang sungguh - sungguh antara fungsi - fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem - problem biasa yang terjadi,dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya sendiri.
Bukan hanya di sekolah, permasalahan mental juga ada di lingkungan akademis  ( kuliah ). Sebagian mahasiswa berikut adalah Usaha-usaha kesehatan mental bagi para mahasiswa :
Mahasiswa sebagai individu yang sudah menginjak usia dewas, sering
kali masih menghadapi banyak problem yang perlu bantuan untuk memecahkan.
Bila problem tidak segera diatasi, akan menimbulkan gangguan keseimbangan jiwa.
Penting sekali bagi usaha tersebut adalah berperannya penasihat
akademik maupun petugas bimbingan di perguruan tinggi dalam rangka
membantu mahasiswa mengatasi problem mereka.
Adapun problem tersebut antara lain :
a. Problem Akademis : pemilihan jurusan, pencapaian prestasi, pengambilan
beban studi, cara belajar dan sebagainya.
b. Problem Pekerjaan : karena banyak diantara mereka yang sudah bekerja, jadi perlu adanya sikap dan bagaimana jalan keluarnya agar pola belajar dapat berjalan sesuai rencana.
c. Problem Keuangan : bagai yang masih belajar, keuangannya tergantung pada orang tuanya.
d. Problem Sosial dalam masyarakat, pergaulan dengan kawan lain jenis.
e. Problem Emosional dan Pribadi, seperti pacaran, kecemasan dan tidak aman diri.



       Istilah "KESEHATAN MENTAL" di ambil dari konsep mental hygiene. Kata mental di ambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan.
Kesehatan mental dapat dipahami sebagai terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. (Zakiah Darajat: 1975).
Sedangkan cakupan kesehatan mental menurut ( Samsu Yusuf ), berupa:
 (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan, menjalani, kehidupan sehari-hari,
(2) bagaimana memandang diri sendiri dan orang lain,
(3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.
Kesehatan mental pada umumnya tak kalah penting dengan masalah kesehatan jasmani dan bila pada hal ini mengalami gangguan maka akan dapat menimbulkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan layaknya gangguan pada kesehatan jasmani. Yang membedakan dari keduanya adalah gangguan pada kesehatan mental berakibat pada timbulnya perilaku menyimpang (maladjustment) yang tidak diinginkan baik oleh diri sendiri maupun lingkungan sekitar. . Maka dibutuhkan adanya pemahaman kesehatan mental dan tak mengesampingkan hal ini begitu saja untuk dapat membangun kesadaran untuk hidup secara sehat baik jasmani maupun mental.untuk mendapatkan kesehatan mental, maka diperlukannya suatu lingkungan yang kondusif dan menunjang.
 Pertama ialah lingkungan keluarga,dimana adanya orang tua bukan menjadi pemimpin, melainakan sebagai sahabat untuk anak-anaknya. Faktor inilah yang bias membuat sang anak merasa nyaman dan tidak dalam tekanan jika ada suatu permasalahan.
Yang kedua ialah masyarakat, ini juga suatu faktor yang sangat penting, dimana lingkungan memegang peranan yang sangat sentitif, sebagai orang tua, kita harus bias memberi tahu kepada anak-anak tentang pergaulan di masyarakat agar tidak terjebak di pergaulan yang tidak benar.
Dan yang terakhir lingkungan sekolah, dimana seorang anak dihadapkan kepada sosialisasi terhadap guru dan teman sebayanya,faktor inilah yang bisa menunjang siap atau tidaknya mental seorang anak di segala aspek sosialnya. Adapun gangguan yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah ialah gangguan dalam masa pembelajarannya di sekolah, gangguan dalam pola belajar,masalah kenakalan remaja,masalah disiplin dan gangguan mental. Beberapa masalah seperti diatas cepat atau lambat akan ditemui dalam berbagai tingkat kerumitan masalah, tergantung dari seberapa komplek masalah yang ditimbulkan serta lingkungan yang ada. Dalam masa perkembangan peserta didik pada jenjang sekolah menengah (SLTP & SLTA) sebagaimana kita ketahui merupakan masa yang labil dan membutuhkan pendampingan guna mengarahkan pada hal-hal yang bersifat positif tanpa mengabaikan sisi aktualisasi peserta didik dan sekolah sebagai pihak yang mendapatkan amanah dari orang tua sedapat mungkin mampu mengakomodasi hal tersebut. pada masa ini peserta didik yang pada umumnya remaja sedang mengalami fase trasinsisi (peralihan) antara sikap bergantung (dependent) menuju sikap bebas (independent) pada usia dewasa.Ketidaksiapan dalam menghadapi ujian, ketidakpercayaandiri, kehamilan di luar nikah, bahkan perilaku bunuh diri karena tidak lulus UN merupakan beberapa indikasi adanya ketidakmampuan pada pribadi siswa dalam menangani masalah pada dirinya yang juga merupakan tanda adanya gangguan kesehatan mental, mengingat remaja merupakan fase yang rawan, labil, dan dinamis.
Banyak syarat-syarat yang harus di perhatikan dalam menciptakan lingkungan yang menunjang dalam kesehatan mental anak, sebagai contoh ialah
1.       ruangan yang nyaman bagi anak didik,
2.       menciptakan suasana yang kondusif bagi belajar dan mengajar,
3.      Usaha pemahaman anak didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4.      Menggunakan metode dan alat belajar yang dapat memotivasi belajar.
5.      Menciptakan situasi sosial yang baik dan membantu perkembangan pribadi anak.
6.      Penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan pribadi anak.
7.      Kerjasama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
8.      Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab baik pada murid maupun pada guru.
9.      Hubungan yang erat dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat.
10.  Pelaksanaan UKS (usaha kesehatan sekolah) termasuk usaha kesehatan mental.
Jadi, didalam ruang lingkup pendidikan sangatlah penting sarana dan prasarana yang sangat menunjang bagi kesehatan mental anak didik, dan perlu diketahui pula peran serta orang tua, masyarakat , tenaga pengajar serta anak itu sendiri untuk dapat mencapai kekuatan mental.
Disamping kesehatan mental, aspek perilaku menyimpang juga menjadi masalah serius dalam hal kesehatan mental. Banyak contoh yang dapat digambarkan dari perilaku menyimpang,ini saya paparkan sebagai berikut.
1.      .Kleptomania ( terpaksa mencuri )

Dalam hal ini orang terpaksa mencuri barang orang lain. Sebenarnya ia merasa gelisah dengan perlakuan mencuri itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari tindakan itu, walaupun barang-barang tersebut tidak dibutuhkannya.
Yang banyak menderita gejala ini adalah anak-anak karena orangtuanya terlalu keras, disiplin atau kurang memperhatikan

2.      Fetishism
Pada gejala ini orang terpaksa mengumpulkan dan menyimpan barang-barang kepunyaan orang lain dari seks yang berlainan. Misalnya seorang laki-laki yang suka menyimpan saputangan, sepatu atau rambut wanita yang baginya mempunyai arti atau nilai seksuil dalam perasaannya.

3.      Compusife (yang berhubungan dengan seksual)
Gejala ini ada 2 macam yaitu:
·         Ingin tahu tentang kelamin dari orang berlainan seks
·         Ingin memamerkan kelamin sendiri

Dalam hal yang pertama seseorang akan berusaha untuk melihat atau memperhatikan bentuk tubuh dan kelamin orang lain dengan berbagai cara atau juga menyentuhnya. Dalam hal ini yang kedua oaring merasa terdorong untuk memamerkan tubuh dan kelaminnya tanpa merasa malu.Pada umumnya gejala tersebut diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan waktu kecil atau mungkin pula sebagai ungkapan dari keinginan yang tertekan yang pelaksanaannya dan merasa takut kalau keinginannya itu terasa.
Adapun teori yang memaparkan tentang kesehatan mental adalah sebagaimana di kutip dari Chauhan , dalam usaha ini sekolah mempunyai beberapa cara
dan fasilitas, yaitu :
1. Adanya lingkungan sekolah yang dapat berperan bagi pengembangan sikap
anak yang positif.
2. Adanya prosedur administrasi yang demokratis dalam sekolah yang
memungkinkan anak mengidentifikasikan diri.
3. Adanya ketentuan / keharusan anak mengikuti aktifitas kurikuler yang dapat
memenuhi kebutuhan mereka.
4. Adanya guru yang dapat membimbing
5. Adanya kebebasan bagi murid-murid untuk mengeksplorasikan dirinya
6. Adanya kemungkinan untuk mengembangkan minat dan bakat yang
berbeda-beda.
7. Adanya fasilitas berupa : bacaan-bacaan untuk pembinaan kesehatan mental.
8. Adanya aturan-aturan dalam hal hubungan individu, adanya pendidikan seks
Contoh di atas bisa kita pelajari dan dapat pula kita terapkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, supaya kesehatan mental dapat kita terima dengan sebaik mungkin dan bisa kita kendalikan. Interaksi kepada sesama dan menyelaraskannya dalam aspek kehidupan sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan dan memberikan hidup semakin berwarna. 
Setiap kegiatan mental yang disertai dengan pengalaman emosional yang sesuai, jadi apakah atau emosional kesehatan, bisa lebih jelas mencerminkan kesehatan mental seseorang. Sekolah "lingkungan halus" di banyak elemen dapat langsung atau tidak langsung mempengaruhi suasana hati siswa sehingga siswa memiliki reaksi emosional negatif atau positif, yaitu, dalam hal ini dengan guru untuk menciptakan suasana psikologis dan lingkungan, siswa dapat membentuk baik, puas bahagia, optimis, emosional kondisi baik ceria, tetapi juga mungkin mengalami depresi, gelisah, takut dan emosi negatif lainnya. Oleh karena itu, setiap guru dan siswa harus peduli tentang kehidupan emosional sekolah erat berkaitan dengan "lingkungan lunak" untuk membantu siswa membuat kehidupan emosi yang sehat, sehingga optimisme positif untuk menjadi emosi yang dominan dalam kehidupan sosial siswa.



KESIMPULAN

 Banyak faktor yang dapat membangun kesehatan mental,baik didalam keluarga,masyarakat dan juga ruang lingkup pendidikan dan disini ialah “Sekolah”.pengaruh atau gangguan yang dapat di jumpai juga sangat banyak yang bias mengakibatkan kesehatan mental itu sendiri menjadi tidak sehat terutama aspek penyimpang. Faktor keluarga yang paling utama dan utama,karena di sisi inilah anak di ajarkan tentang pengenalah hidup sebelum memasuki kehidupan dunia luar.peran serta orang tua yang aktif sangatlah penting untuk tumbuh kembangnya mental sang anak,bukan hanya menjadi orang tua,tapi bias menempatkan diri sebagai seorang sahabat yang siap jika anak mengalami permasalahan. Faktor  berikutnya adalah masyarakat.di faktor ini sering kita jumpai berbagai macam kehidupan,mulai dari yang halus hingga kasar,pun dari sini juga bisa kita jadikan patokan apakah kesiapan mental kita mampu atau tidak,karena di lingkup ini segala aspek dan pola pikir serta keberagaman budaya menjadi satu.


 REFRENSI :

- Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, CV. Rajawali, Jakarta, 1990.
- Kartini Kartono, Dra., Mental Hygiene ( kesehatan mental ), Bandung, 1990.
- Yusuf Samsu. 2009. Mental Hygiene. Bandung : Maestro.
- Zakiah Drajat.1995. Kesehatan Mental. Gunung Agung. Jakarta.
















Jumat, 18 Februari 2011


Kesehatan Mental di Lingkungan Sekolah


    Istilah "KESEHATAN MENTAL" di ambil dari konsep mental hygiene. Kata mental di ambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan.
Kesehatan mental dapat dipahami sebagai terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. (Zakiah Darajat: 1975).
Sedangkan cakupan kesehatan mental menurut ( Samsu Yusuf ), berupa:
 (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan, menjalani, kehidupan sehari-hari,
(2) bagaimana memandang diri sendiri dan orang lain,
(3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.

Kesehatan mental pada umumnya tak kalah penting dengan masalah kesehatan jasmani dan bila pada hal ini mengalami gangguan maka akan dapat menimbulkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan layaknya gangguan pada kesehatan jasmani. Yang membedakan dari keduanya adalah gangguan pada kesehatan mental berakibat pada timbulnya perilaku menyimpang (maladjustment) yang tidak diinginkan baik oleh diri sendiri maupun lingkungan sekitar. . Maka dibutuhkan adanya pemahaman kesehatan mental dan tak mengesampingkan hal ini begitu saja untuk dapat membangun kesadaran untuk hidup secara sehat baik jasmani maupun mental.untuk mendapatkan kesehatan mental, maka diperlukannya suatu lingkungan yang kondusif dan menunjang.
 Pertama ialah lingkungan keluarga,dimana adanya orang tua bukan menjadi pemimpin, melainakan sebagai sahabat untuk anak-anaknya. Faktor inilah yang bias membuat sang anak merasa nyaman dan tidak dalam tekanan jika ada suatu permasalahan.
Yang kedua ialah masyarakat, ini juga suatu faktor yang sangat penting, dimana lingkungan memegang peranan yang sangat sentitif, sebagai orang tua, kita harus bias memberi tahu kepada anak-anak tentang pergaulan di masyarakat agar tidak terjebak di pergaulan yang tidak benar.
Dan yang terakhir lingkungan sekolah, dimana seorang anak dihadapkan kepada sosialisasi terhadap guru dan teman sebayanya,faktor inilah yang bisa menunjang siap atau tidaknya mental seorang anak di segala aspek sosialnya. Adapun gangguan yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah ialah gangguan dalam masa pembelajarannya di sekolah, gangguan dalam pola belajar,masalah kenakalan remaja,masalah disiplin dan gangguan mental. Beberapa masalah seperti diatas cepat atau lambat akan ditemui dalam berbagai tingkat kerumitan masalah, tergantung dari seberapa komplek masalah yang ditimbulkan serta lingkungan yang ada. Dalam masa perkembangan peserta didik pada jenjang sekolah menengah (SLTP & SLTA) sebagaimana kita ketahui merupakan masa yang labil dan membutuhkan pendampingan guna mengarahkan pada hal-hal yang bersifat positif tanpa mengabaikan sisi aktualisasi peserta didik dan sekolah sebagai pihak yang mendapatkan amanah dari orang tua sedapat mungkin mampu mengakomodasi hal tersebut. pada masa ini peserta didik yang pada umumnya remaja sedang mengalami fase trasinsisi (peralihan) antara sikap bergantung (dependent) menuju sikap bebas (independent) pada usia dewasa.Ketidaksiapan dalam menghadapi ujian, ketidakpercayaandiri, kehamilan di luar nikah, bahkan perilaku bunuh diri karena tidak lulus UN merupakan beberapa indikasi adanya ketidakmampuan pada pribadi siswa dalam menangani masalah pada dirinya yang juga merupakan tanda adanya gangguan kesehatan mental, mengingat remaja merupakan fase yang rawan, labil, dan dinamis.
Banyak syarat-syarat yang harus di perhatikan dalam menciptakan lingkungan yang menunjang dalam kesehatan mental anak, sebagai contoh ialah
1.       ruangan yang nyaman bagi anak didik,
2.       menciptakan suasana yang kondusif bagi belajar dan mengajar,
3.      Usaha pemahaman anak didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4.      Menggunakan metode dan alat belajar yang dapat memotivasi belajar.
5.      Menciptakan situasi sosial yang baik dan membantu perkembangan pribadi anak.
6.      Penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan pribadi anak.
7.      Kerjasama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
8.      Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab baik pada murid maupun pada guru.
9.      Hubungan yang erat dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat.
10.  Pelaksanaan UKS (usaha kesehatan sekolah) termasuk usaha kesehatan mental.
Jadi, didalam ruang lingkup pendidikan sangatlah penting sarana dan prasarana yang sangat menunjang bagi kesehatan mental anak didik, dan perlu diketahui pula peran serta orang tua, masyarakat , tenaga pengajar serta anak itu sendiri untuk dapat mencapai kekuatan mental.
Disamping kesehatan mental, aspek perilaku menyimpang juga menjadi masalah serius dalam hal kesehatan mental. Banyak contoh yang dapat digambarkan dari perilaku menyimpang,ini saya paparkan sebagai berikut.
1.      .Kleptomania ( terpaksa mencuri )

Dalam hal ini orang terpaksa mencuri barang orang lain. Sebenarnya ia merasa gelisah dengan perlakuan mencuri itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari tindakan itu, walaupun barang-barang tersebut tidak dibutuhkannya.
Yang banyak menderita gejala ini adalah anak-anak karena orangtuanya terlalu keras, disiplin atau kurang memperhatikan

2.      Fetishism
Pada gejala ini orang terpaksa mengumpulkan dan menyimpan barang-barang kepunyaan orang lain dari seks yang berlainan. Misalnya seorang laki-laki yang suka menyimpan saputangan, sepatu atau rambut wanita yang baginya mempunyai arti atau nilai seksuil dalam perasaannya

3.      Compusife (yang berhubungan dengan seksual)
Gejala ini ada 2 macam yaitu:
·         Ingin tahu tentang kelamin dari orang berlainan seks
·         Ingin memamerkan kelamin sendiri

Dalam hal yang pertama seseorang akan berusaha untuk melihat atau memperhatikan bentuk tubuh dan kelamin orang lain dengan berbagai cara atau juga menyentuhnya. Dalam hal ini yang kedua oaring merasa terdorong untuk memamerkan tubuh dan kelaminnya tanpa merasa malu.Pada umumnya gejala tersebut diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan waktu kecil atau mungkin pula sebagai ungkapan dari keinginan yang tertekan yang pelaksanaannya dan merasa takut kalau keinginannya itu terasa.
Adapun teori yang memaparkan tentang kesehatan mental adalah sebagaimana di kutip dari Chauhan , dalam usaha ini sekolah mempunyai beberapa cara
dan fasilitas, yaitu :
1. Adanya lingkungan sekolah yang dapat berperan bagi pengembangan sikap
anak yang positif.
2. Adanya prosedur administrasi yang demokratis dalam sekolah yang
memungkinkan anak mengidentifikasikan diri.
3. Adanya ketentuan / keharusan anak mengikuti aktifitas kurikuler yang dapat
memenuhi kebutuhan mereka.
4. Adanya guru yang dapat membimbing
5. Adanya kebebasan bagi murid-murid untuk mengeksplorasikan dirinya
6. Adanya kemungkinan untuk mengembangkan minat dan bakat yang
berbeda-beda.
7. Adanya fasilitas berupa : bacaan-bacaan untuk pembinaan kesehatan mental.
8. Adanya aturan-aturan dalam hal hubungan individu, adanya pendidikan seks


Contoh di atas bisa kita pelajari dan dapat pula kita terapkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, supaya kesehatan mental dapat kita terima dengan sebaik mungkin dan bisa kita kendalikan. Interaksi kepada sesama dan menyelaraskannya dalam aspek kehidupan sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan dan memberikan hidup semakin berwarna. 


Setiap kegiatan mental yang disertai dengan pengalaman emosional yang sesuai, jadi apakah atau emosional kesehatan, bisa lebih jelas mencerminkan kesehatan mental seseorang. Sekolah "lingkungan halus" di banyak elemen dapat langsung atau tidak langsung mempengaruhi suasana hati siswa sehingga siswa memiliki reaksi emosional negatif atau positif, yaitu, dalam hal ini dengan guru untuk menciptakan suasana psikologis dan lingkungan, siswa dapat membentuk baik, puas bahagia, optimis, emosional kondisi baik ceria, tetapi juga mungkin mengalami depresi, gelisah, takut dan emosi negatif lainnya. Oleh karena itu, setiap guru dan siswa harus peduli tentang kehidupan emosional sekolah erat berkaitan dengan "lingkungan lunak" untuk membantu siswa membuat kehidupan emosi yang sehat, sehingga optimisme positif untuk menjadi emosi yang dominan dalam kehidupan sosial siswa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat membangun kesehatan mental,baik didalam keluarga,masyarakat dan juga ruang lingkup pendidikan dan disini ialah “Sekolah”.pengaruh atau gangguan yang dapat di jumpai juga sangat banyak yang bias mengakibatkan kesehatan mental itu sendiri menjadi tidak sehat terutama aspek penyimpang. Faktor keluarga yang paling utama dan utama,karena di sisi inilah anak di ajarkan tentang pengenalah hidup sebelum memasuki kehidupan dunia luar.peran serta orang tua yang aktif sangatlah penting untuk tumbuh kembangnya mental sang anak,bukan hanya menjadi orang tua,tapi bias menempatkan diri sebagai seorang sahabat yang siap jika anak mengalami permasalahan. Faktor  berikutnya adalah masyarakat.di faktor ini sering kita jumpai berbagai macam kehidupan,mulai dari yang halus hingga kasar,pun dari sini juga bisa kita jadikan patokan apakah kesiapan mental kita mampu atau tidak,karena di lingkup ini segala aspek dan pola pikir 
serta keberagaman budaya menjadi satu.


REFRENSI  :>