Selasa, 01 Maret 2011

Kesehatan Mental di Lingkungan Sekolah 2

Pendahuluan

Kondisi lingkungan sekolah yang saat ini kita jumpai hampir semua belum memadai, baik dari  segi materi dan juga segi komunikasi antara guru dengan murid,ataupun sebaliknya. Sering kita menyaksikan kekerasan di dalam lingkungan sekolah yang terjadi belakangan ini. Berita tentang kekerasan guru terhadap murid yang tidak mengerjakan PR ataupun murid itu tertidur di kelas, kurangnnya komunikasi yang tidak berjalan efektif membuat sang guru berbuat semena-mena dalam hal menghukum murid. Dalam hal ini saya tidak menyebutkan apa-apa saja yang terjadi,tetapi yang menjadi perhatian saya ialah kondisi mental dari murid tersebut setelah menerima hukuman dan akibatnya membuat mental sang anak menjadi jatuh dan sering menjadi alasan sang murid malas datang ke sekolah, belum lagi banyaknya tugas-tugas dari guru-guru yang lain. Perlu adanya evaluasi yang bisa menjembatani faktor tersebut, peran guru bimbingan konseling sangatlah di butuhkan sebagai sarana komunikasi murid yang menghadapi suatu permasalahan agar tidak menganggu belajarnya.
Agar semua berjalan dengan efektif, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh tenaga pendidik adalah :
1.       Komunikasi, ini sangat penting di perhatikan oleh tenaga pendidik supaya suasana kelas berjalan dengan kondusif.
2.       Selalu berhubungan dengan anak didik agar murid merasa nyaman dan tenang belajar di ruang kelas.
3.       Mengikuti perkembangan zaman.
Dalam kehidupan perlunya pola kesehatan yang menunjang bagi kesehatan jasmani dan juga kesehatan rohani. Ini semua demi tercapai dan terwujudnya kesehatan mental yang selalu terjaga. Seperti yang tertulis dalam UU no 23 tahun 1992 yang berbunyi “ Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis “
Menurut Zakiah Daradjat(1985:10-14) mendefinisikan kesehatan mental dengan beberapa pengertian :
1.       Terhindarnya orang dari gejala - gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala - gejala penyakit jiwa(psychose).
2.       Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup.
3.       Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagian diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan - gangguan dan penyakit jiwa.
4.       Terwujudnya keharmonisan yang sungguh - sungguh antara fungsi - fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem - problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya.
Dengan berpijak pada pengertian di atas, kesehatan mental menurut saya adalah terhindarnya orang dari gejala - gejala gangguan jiwa serta mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri,dengan orang lain maupun dengan masayarakat dimana seseorang itu berada dan bisa mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin untuk mewujudkan suatu keharmonisan yang sungguh - sungguh antara fungsi - fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem - problem biasa yang terjadi,dan merasakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya sendiri.
Bukan hanya di sekolah, permasalahan mental juga ada di lingkungan akademis  ( kuliah ). Sebagian mahasiswa berikut adalah Usaha-usaha kesehatan mental bagi para mahasiswa :
Mahasiswa sebagai individu yang sudah menginjak usia dewas, sering
kali masih menghadapi banyak problem yang perlu bantuan untuk memecahkan.
Bila problem tidak segera diatasi, akan menimbulkan gangguan keseimbangan jiwa.
Penting sekali bagi usaha tersebut adalah berperannya penasihat
akademik maupun petugas bimbingan di perguruan tinggi dalam rangka
membantu mahasiswa mengatasi problem mereka.
Adapun problem tersebut antara lain :
a. Problem Akademis : pemilihan jurusan, pencapaian prestasi, pengambilan
beban studi, cara belajar dan sebagainya.
b. Problem Pekerjaan : karena banyak diantara mereka yang sudah bekerja, jadi perlu adanya sikap dan bagaimana jalan keluarnya agar pola belajar dapat berjalan sesuai rencana.
c. Problem Keuangan : bagai yang masih belajar, keuangannya tergantung pada orang tuanya.
d. Problem Sosial dalam masyarakat, pergaulan dengan kawan lain jenis.
e. Problem Emosional dan Pribadi, seperti pacaran, kecemasan dan tidak aman diri.



       Istilah "KESEHATAN MENTAL" di ambil dari konsep mental hygiene. Kata mental di ambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan.
Kesehatan mental dapat dipahami sebagai terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. (Zakiah Darajat: 1975).
Sedangkan cakupan kesehatan mental menurut ( Samsu Yusuf ), berupa:
 (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan, menjalani, kehidupan sehari-hari,
(2) bagaimana memandang diri sendiri dan orang lain,
(3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.
Kesehatan mental pada umumnya tak kalah penting dengan masalah kesehatan jasmani dan bila pada hal ini mengalami gangguan maka akan dapat menimbulkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan layaknya gangguan pada kesehatan jasmani. Yang membedakan dari keduanya adalah gangguan pada kesehatan mental berakibat pada timbulnya perilaku menyimpang (maladjustment) yang tidak diinginkan baik oleh diri sendiri maupun lingkungan sekitar. . Maka dibutuhkan adanya pemahaman kesehatan mental dan tak mengesampingkan hal ini begitu saja untuk dapat membangun kesadaran untuk hidup secara sehat baik jasmani maupun mental.untuk mendapatkan kesehatan mental, maka diperlukannya suatu lingkungan yang kondusif dan menunjang.
 Pertama ialah lingkungan keluarga,dimana adanya orang tua bukan menjadi pemimpin, melainakan sebagai sahabat untuk anak-anaknya. Faktor inilah yang bias membuat sang anak merasa nyaman dan tidak dalam tekanan jika ada suatu permasalahan.
Yang kedua ialah masyarakat, ini juga suatu faktor yang sangat penting, dimana lingkungan memegang peranan yang sangat sentitif, sebagai orang tua, kita harus bias memberi tahu kepada anak-anak tentang pergaulan di masyarakat agar tidak terjebak di pergaulan yang tidak benar.
Dan yang terakhir lingkungan sekolah, dimana seorang anak dihadapkan kepada sosialisasi terhadap guru dan teman sebayanya,faktor inilah yang bisa menunjang siap atau tidaknya mental seorang anak di segala aspek sosialnya. Adapun gangguan yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah ialah gangguan dalam masa pembelajarannya di sekolah, gangguan dalam pola belajar,masalah kenakalan remaja,masalah disiplin dan gangguan mental. Beberapa masalah seperti diatas cepat atau lambat akan ditemui dalam berbagai tingkat kerumitan masalah, tergantung dari seberapa komplek masalah yang ditimbulkan serta lingkungan yang ada. Dalam masa perkembangan peserta didik pada jenjang sekolah menengah (SLTP & SLTA) sebagaimana kita ketahui merupakan masa yang labil dan membutuhkan pendampingan guna mengarahkan pada hal-hal yang bersifat positif tanpa mengabaikan sisi aktualisasi peserta didik dan sekolah sebagai pihak yang mendapatkan amanah dari orang tua sedapat mungkin mampu mengakomodasi hal tersebut. pada masa ini peserta didik yang pada umumnya remaja sedang mengalami fase trasinsisi (peralihan) antara sikap bergantung (dependent) menuju sikap bebas (independent) pada usia dewasa.Ketidaksiapan dalam menghadapi ujian, ketidakpercayaandiri, kehamilan di luar nikah, bahkan perilaku bunuh diri karena tidak lulus UN merupakan beberapa indikasi adanya ketidakmampuan pada pribadi siswa dalam menangani masalah pada dirinya yang juga merupakan tanda adanya gangguan kesehatan mental, mengingat remaja merupakan fase yang rawan, labil, dan dinamis.
Banyak syarat-syarat yang harus di perhatikan dalam menciptakan lingkungan yang menunjang dalam kesehatan mental anak, sebagai contoh ialah
1.       ruangan yang nyaman bagi anak didik,
2.       menciptakan suasana yang kondusif bagi belajar dan mengajar,
3.      Usaha pemahaman anak didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4.      Menggunakan metode dan alat belajar yang dapat memotivasi belajar.
5.      Menciptakan situasi sosial yang baik dan membantu perkembangan pribadi anak.
6.      Penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan pribadi anak.
7.      Kerjasama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
8.      Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab baik pada murid maupun pada guru.
9.      Hubungan yang erat dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat.
10.  Pelaksanaan UKS (usaha kesehatan sekolah) termasuk usaha kesehatan mental.
Jadi, didalam ruang lingkup pendidikan sangatlah penting sarana dan prasarana yang sangat menunjang bagi kesehatan mental anak didik, dan perlu diketahui pula peran serta orang tua, masyarakat , tenaga pengajar serta anak itu sendiri untuk dapat mencapai kekuatan mental.
Disamping kesehatan mental, aspek perilaku menyimpang juga menjadi masalah serius dalam hal kesehatan mental. Banyak contoh yang dapat digambarkan dari perilaku menyimpang,ini saya paparkan sebagai berikut.
1.      .Kleptomania ( terpaksa mencuri )

Dalam hal ini orang terpaksa mencuri barang orang lain. Sebenarnya ia merasa gelisah dengan perlakuan mencuri itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari tindakan itu, walaupun barang-barang tersebut tidak dibutuhkannya.
Yang banyak menderita gejala ini adalah anak-anak karena orangtuanya terlalu keras, disiplin atau kurang memperhatikan

2.      Fetishism
Pada gejala ini orang terpaksa mengumpulkan dan menyimpan barang-barang kepunyaan orang lain dari seks yang berlainan. Misalnya seorang laki-laki yang suka menyimpan saputangan, sepatu atau rambut wanita yang baginya mempunyai arti atau nilai seksuil dalam perasaannya.

3.      Compusife (yang berhubungan dengan seksual)
Gejala ini ada 2 macam yaitu:
·         Ingin tahu tentang kelamin dari orang berlainan seks
·         Ingin memamerkan kelamin sendiri

Dalam hal yang pertama seseorang akan berusaha untuk melihat atau memperhatikan bentuk tubuh dan kelamin orang lain dengan berbagai cara atau juga menyentuhnya. Dalam hal ini yang kedua oaring merasa terdorong untuk memamerkan tubuh dan kelaminnya tanpa merasa malu.Pada umumnya gejala tersebut diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan waktu kecil atau mungkin pula sebagai ungkapan dari keinginan yang tertekan yang pelaksanaannya dan merasa takut kalau keinginannya itu terasa.
Adapun teori yang memaparkan tentang kesehatan mental adalah sebagaimana di kutip dari Chauhan , dalam usaha ini sekolah mempunyai beberapa cara
dan fasilitas, yaitu :
1. Adanya lingkungan sekolah yang dapat berperan bagi pengembangan sikap
anak yang positif.
2. Adanya prosedur administrasi yang demokratis dalam sekolah yang
memungkinkan anak mengidentifikasikan diri.
3. Adanya ketentuan / keharusan anak mengikuti aktifitas kurikuler yang dapat
memenuhi kebutuhan mereka.
4. Adanya guru yang dapat membimbing
5. Adanya kebebasan bagi murid-murid untuk mengeksplorasikan dirinya
6. Adanya kemungkinan untuk mengembangkan minat dan bakat yang
berbeda-beda.
7. Adanya fasilitas berupa : bacaan-bacaan untuk pembinaan kesehatan mental.
8. Adanya aturan-aturan dalam hal hubungan individu, adanya pendidikan seks
Contoh di atas bisa kita pelajari dan dapat pula kita terapkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, supaya kesehatan mental dapat kita terima dengan sebaik mungkin dan bisa kita kendalikan. Interaksi kepada sesama dan menyelaraskannya dalam aspek kehidupan sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan dan memberikan hidup semakin berwarna. 
Setiap kegiatan mental yang disertai dengan pengalaman emosional yang sesuai, jadi apakah atau emosional kesehatan, bisa lebih jelas mencerminkan kesehatan mental seseorang. Sekolah "lingkungan halus" di banyak elemen dapat langsung atau tidak langsung mempengaruhi suasana hati siswa sehingga siswa memiliki reaksi emosional negatif atau positif, yaitu, dalam hal ini dengan guru untuk menciptakan suasana psikologis dan lingkungan, siswa dapat membentuk baik, puas bahagia, optimis, emosional kondisi baik ceria, tetapi juga mungkin mengalami depresi, gelisah, takut dan emosi negatif lainnya. Oleh karena itu, setiap guru dan siswa harus peduli tentang kehidupan emosional sekolah erat berkaitan dengan "lingkungan lunak" untuk membantu siswa membuat kehidupan emosi yang sehat, sehingga optimisme positif untuk menjadi emosi yang dominan dalam kehidupan sosial siswa.



KESIMPULAN

 Banyak faktor yang dapat membangun kesehatan mental,baik didalam keluarga,masyarakat dan juga ruang lingkup pendidikan dan disini ialah “Sekolah”.pengaruh atau gangguan yang dapat di jumpai juga sangat banyak yang bias mengakibatkan kesehatan mental itu sendiri menjadi tidak sehat terutama aspek penyimpang. Faktor keluarga yang paling utama dan utama,karena di sisi inilah anak di ajarkan tentang pengenalah hidup sebelum memasuki kehidupan dunia luar.peran serta orang tua yang aktif sangatlah penting untuk tumbuh kembangnya mental sang anak,bukan hanya menjadi orang tua,tapi bias menempatkan diri sebagai seorang sahabat yang siap jika anak mengalami permasalahan. Faktor  berikutnya adalah masyarakat.di faktor ini sering kita jumpai berbagai macam kehidupan,mulai dari yang halus hingga kasar,pun dari sini juga bisa kita jadikan patokan apakah kesiapan mental kita mampu atau tidak,karena di lingkup ini segala aspek dan pola pikir serta keberagaman budaya menjadi satu.


 REFRENSI :

- Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, CV. Rajawali, Jakarta, 1990.
- Kartini Kartono, Dra., Mental Hygiene ( kesehatan mental ), Bandung, 1990.
- Yusuf Samsu. 2009. Mental Hygiene. Bandung : Maestro.
- Zakiah Drajat.1995. Kesehatan Mental. Gunung Agung. Jakarta.
















Jumat, 18 Februari 2011


Kesehatan Mental di Lingkungan Sekolah


    Istilah "KESEHATAN MENTAL" di ambil dari konsep mental hygiene. Kata mental di ambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan.
Kesehatan mental dapat dipahami sebagai terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. (Zakiah Darajat: 1975).
Sedangkan cakupan kesehatan mental menurut ( Samsu Yusuf ), berupa:
 (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan, menjalani, kehidupan sehari-hari,
(2) bagaimana memandang diri sendiri dan orang lain,
(3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.

Kesehatan mental pada umumnya tak kalah penting dengan masalah kesehatan jasmani dan bila pada hal ini mengalami gangguan maka akan dapat menimbulkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan layaknya gangguan pada kesehatan jasmani. Yang membedakan dari keduanya adalah gangguan pada kesehatan mental berakibat pada timbulnya perilaku menyimpang (maladjustment) yang tidak diinginkan baik oleh diri sendiri maupun lingkungan sekitar. . Maka dibutuhkan adanya pemahaman kesehatan mental dan tak mengesampingkan hal ini begitu saja untuk dapat membangun kesadaran untuk hidup secara sehat baik jasmani maupun mental.untuk mendapatkan kesehatan mental, maka diperlukannya suatu lingkungan yang kondusif dan menunjang.
 Pertama ialah lingkungan keluarga,dimana adanya orang tua bukan menjadi pemimpin, melainakan sebagai sahabat untuk anak-anaknya. Faktor inilah yang bias membuat sang anak merasa nyaman dan tidak dalam tekanan jika ada suatu permasalahan.
Yang kedua ialah masyarakat, ini juga suatu faktor yang sangat penting, dimana lingkungan memegang peranan yang sangat sentitif, sebagai orang tua, kita harus bias memberi tahu kepada anak-anak tentang pergaulan di masyarakat agar tidak terjebak di pergaulan yang tidak benar.
Dan yang terakhir lingkungan sekolah, dimana seorang anak dihadapkan kepada sosialisasi terhadap guru dan teman sebayanya,faktor inilah yang bisa menunjang siap atau tidaknya mental seorang anak di segala aspek sosialnya. Adapun gangguan yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah ialah gangguan dalam masa pembelajarannya di sekolah, gangguan dalam pola belajar,masalah kenakalan remaja,masalah disiplin dan gangguan mental. Beberapa masalah seperti diatas cepat atau lambat akan ditemui dalam berbagai tingkat kerumitan masalah, tergantung dari seberapa komplek masalah yang ditimbulkan serta lingkungan yang ada. Dalam masa perkembangan peserta didik pada jenjang sekolah menengah (SLTP & SLTA) sebagaimana kita ketahui merupakan masa yang labil dan membutuhkan pendampingan guna mengarahkan pada hal-hal yang bersifat positif tanpa mengabaikan sisi aktualisasi peserta didik dan sekolah sebagai pihak yang mendapatkan amanah dari orang tua sedapat mungkin mampu mengakomodasi hal tersebut. pada masa ini peserta didik yang pada umumnya remaja sedang mengalami fase trasinsisi (peralihan) antara sikap bergantung (dependent) menuju sikap bebas (independent) pada usia dewasa.Ketidaksiapan dalam menghadapi ujian, ketidakpercayaandiri, kehamilan di luar nikah, bahkan perilaku bunuh diri karena tidak lulus UN merupakan beberapa indikasi adanya ketidakmampuan pada pribadi siswa dalam menangani masalah pada dirinya yang juga merupakan tanda adanya gangguan kesehatan mental, mengingat remaja merupakan fase yang rawan, labil, dan dinamis.
Banyak syarat-syarat yang harus di perhatikan dalam menciptakan lingkungan yang menunjang dalam kesehatan mental anak, sebagai contoh ialah
1.       ruangan yang nyaman bagi anak didik,
2.       menciptakan suasana yang kondusif bagi belajar dan mengajar,
3.      Usaha pemahaman anak didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4.      Menggunakan metode dan alat belajar yang dapat memotivasi belajar.
5.      Menciptakan situasi sosial yang baik dan membantu perkembangan pribadi anak.
6.      Penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan pribadi anak.
7.      Kerjasama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
8.      Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab baik pada murid maupun pada guru.
9.      Hubungan yang erat dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat.
10.  Pelaksanaan UKS (usaha kesehatan sekolah) termasuk usaha kesehatan mental.
Jadi, didalam ruang lingkup pendidikan sangatlah penting sarana dan prasarana yang sangat menunjang bagi kesehatan mental anak didik, dan perlu diketahui pula peran serta orang tua, masyarakat , tenaga pengajar serta anak itu sendiri untuk dapat mencapai kekuatan mental.
Disamping kesehatan mental, aspek perilaku menyimpang juga menjadi masalah serius dalam hal kesehatan mental. Banyak contoh yang dapat digambarkan dari perilaku menyimpang,ini saya paparkan sebagai berikut.
1.      .Kleptomania ( terpaksa mencuri )

Dalam hal ini orang terpaksa mencuri barang orang lain. Sebenarnya ia merasa gelisah dengan perlakuan mencuri itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari tindakan itu, walaupun barang-barang tersebut tidak dibutuhkannya.
Yang banyak menderita gejala ini adalah anak-anak karena orangtuanya terlalu keras, disiplin atau kurang memperhatikan

2.      Fetishism
Pada gejala ini orang terpaksa mengumpulkan dan menyimpan barang-barang kepunyaan orang lain dari seks yang berlainan. Misalnya seorang laki-laki yang suka menyimpan saputangan, sepatu atau rambut wanita yang baginya mempunyai arti atau nilai seksuil dalam perasaannya

3.      Compusife (yang berhubungan dengan seksual)
Gejala ini ada 2 macam yaitu:
·         Ingin tahu tentang kelamin dari orang berlainan seks
·         Ingin memamerkan kelamin sendiri

Dalam hal yang pertama seseorang akan berusaha untuk melihat atau memperhatikan bentuk tubuh dan kelamin orang lain dengan berbagai cara atau juga menyentuhnya. Dalam hal ini yang kedua oaring merasa terdorong untuk memamerkan tubuh dan kelaminnya tanpa merasa malu.Pada umumnya gejala tersebut diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan waktu kecil atau mungkin pula sebagai ungkapan dari keinginan yang tertekan yang pelaksanaannya dan merasa takut kalau keinginannya itu terasa.
Adapun teori yang memaparkan tentang kesehatan mental adalah sebagaimana di kutip dari Chauhan , dalam usaha ini sekolah mempunyai beberapa cara
dan fasilitas, yaitu :
1. Adanya lingkungan sekolah yang dapat berperan bagi pengembangan sikap
anak yang positif.
2. Adanya prosedur administrasi yang demokratis dalam sekolah yang
memungkinkan anak mengidentifikasikan diri.
3. Adanya ketentuan / keharusan anak mengikuti aktifitas kurikuler yang dapat
memenuhi kebutuhan mereka.
4. Adanya guru yang dapat membimbing
5. Adanya kebebasan bagi murid-murid untuk mengeksplorasikan dirinya
6. Adanya kemungkinan untuk mengembangkan minat dan bakat yang
berbeda-beda.
7. Adanya fasilitas berupa : bacaan-bacaan untuk pembinaan kesehatan mental.
8. Adanya aturan-aturan dalam hal hubungan individu, adanya pendidikan seks


Contoh di atas bisa kita pelajari dan dapat pula kita terapkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, supaya kesehatan mental dapat kita terima dengan sebaik mungkin dan bisa kita kendalikan. Interaksi kepada sesama dan menyelaraskannya dalam aspek kehidupan sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan dan memberikan hidup semakin berwarna. 


Setiap kegiatan mental yang disertai dengan pengalaman emosional yang sesuai, jadi apakah atau emosional kesehatan, bisa lebih jelas mencerminkan kesehatan mental seseorang. Sekolah "lingkungan halus" di banyak elemen dapat langsung atau tidak langsung mempengaruhi suasana hati siswa sehingga siswa memiliki reaksi emosional negatif atau positif, yaitu, dalam hal ini dengan guru untuk menciptakan suasana psikologis dan lingkungan, siswa dapat membentuk baik, puas bahagia, optimis, emosional kondisi baik ceria, tetapi juga mungkin mengalami depresi, gelisah, takut dan emosi negatif lainnya. Oleh karena itu, setiap guru dan siswa harus peduli tentang kehidupan emosional sekolah erat berkaitan dengan "lingkungan lunak" untuk membantu siswa membuat kehidupan emosi yang sehat, sehingga optimisme positif untuk menjadi emosi yang dominan dalam kehidupan sosial siswa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat membangun kesehatan mental,baik didalam keluarga,masyarakat dan juga ruang lingkup pendidikan dan disini ialah “Sekolah”.pengaruh atau gangguan yang dapat di jumpai juga sangat banyak yang bias mengakibatkan kesehatan mental itu sendiri menjadi tidak sehat terutama aspek penyimpang. Faktor keluarga yang paling utama dan utama,karena di sisi inilah anak di ajarkan tentang pengenalah hidup sebelum memasuki kehidupan dunia luar.peran serta orang tua yang aktif sangatlah penting untuk tumbuh kembangnya mental sang anak,bukan hanya menjadi orang tua,tapi bias menempatkan diri sebagai seorang sahabat yang siap jika anak mengalami permasalahan. Faktor  berikutnya adalah masyarakat.di faktor ini sering kita jumpai berbagai macam kehidupan,mulai dari yang halus hingga kasar,pun dari sini juga bisa kita jadikan patokan apakah kesiapan mental kita mampu atau tidak,karena di lingkup ini segala aspek dan pola pikir 
serta keberagaman budaya menjadi satu.


REFRENSI  :>










Kamis, 18 November 2010

Macam-macam Jejaring Sosial serta Dampak Positif dan Negatif.

1. Macam - macam jejaring sosial

Situs jejaring sosial merupakan sebuah web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat pofil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut. Beberapa macam situs jejaring sosial, mulai dari friendster, facebook, kaskus, myspace, twiitter, flickr, yahoo massenger dan masih banyak jejaring sosial yang digunakan oleh masyarakat saat ini. Tetapi saat ini yang paling digemari dan banyak digunakan adalah facebook dan twitter.

2. Dampak Positif dan Negatif jejaring sosial.

Dampak Positif :>

1. Media Interaksi sosial :> pengguna menjadikan alasan untuk menggunakan atau mempunyai situs jejaring sosial. Melalui situs jejaring sosial pengguna dapat berkomunikasi secara mudah, cepat, dan murah. Si pengguna pun dapat mencari keberadaan teman lama, menemukan teman baru dan menemukan orang-orang yang memiliki kesamaan hobi dan aktivitas dann lain-lain.

2. Sarana berbagi :> kita dapat berbagi banyak hal, mulai pengalaman, cerita, pengetahuan, dan banyak lagi yang lain.

3. Sarana ekspresi diri :> kita dapat mengekspresikan diri kita tentang berbagai hal dan bisa membaginya dengan teman - teman kita. Tetapi tentunya yang kita bagikan adalah hal-hal yang positif.

4. Media bisnis :> disini pun kita dapat menjadikan sebagai lahan bisnis buat kita dan masyarakat luas.

Dampak Negatif :>

1. Boros :> pengguna internet biasanya sangat boros untuk menggunakan internet tersebut. Pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan Rp 200.000 sampai dengan Rp 500.000 tiap bulan ( detikinet.com). Tentu, angka demikian tidaklah pantas jika dimanfaatkan untuk aktivitas berjejaring sosial semata.

2. Aksi kejahatan :> Banyak jenis kejahatan yang berawal dari situs jejaring sosial seperti pencemaran nama baik, pemalsuan identitas, penculikan hingga pembunuhan. Dalam situs jejaring sosial memudahkan orang lain untuk melakukan hal- hal yang tidak diinginkan terhadap diri kita, makanya lebih baik kita berhati-hati dalam mnggunakan situs jejaring sosial milik kita.

3. Antisosial :> terlalu aktif di dunia maya kerap membuat kita laliai bersosialisasi di dunia nyata. Semakin lama kita melakukan hal ini, semakin terbatas pergaulan kita sehingga bisa menjadi sosok yang antisosial.

4. Kesehatan :> Aktivitas berjejaring sosial menyebbkan kita berlama-lama di depan komputer sehingga berkibat buruk bagi kesehatan. Gangguan yang biasa kita hadapi adalah ketegangan mata, iritasi mata, kelelahan, nyeri leher dan tungkak, nyeri pada pergelangan tangan dan lain- lain. Jadi, kita harus mengutamakan kesehatan kita dan lebih baik jangan berlama-lama kalau perlu beri sedikit jeda untuk istirahat lalu memulainya kembali.

5. Penyia-nyian waktu produktif :> Banyak orang yang menggunakan situs jejaring sosial pada waktu seharusnya mereka bekerja dan sangat jarang sekali berhubungan dengan pekerjan mereka dan akan sangat lebih parah lagi apabila mereka kecanduan sehingga pekerjaan mereka terbengkalai begitu saja. Jadi sebaiknya gunakan waktu sebaik-baiknya agar semuanya beres.



Selasa, 02 November 2010

Anak-anak dan Internet

PENDAHULUAN

Internet adalah lingkungan yang sebenarnya sangat luas. Mereka dapat berkomunikasi dengan orang lain dari seluruh dunia, berbagi pengalaman dan kepentingan mereka saat mendobrak rintangan budaya. Mereka dapat mendengarkan musik dari seluruh dunia, menonton pengumuman pemenang penghargaan pelayanan publik, dan bermain game yang menguji ketrampilan dan koordinasi mereka. Selain itu, anak-anak rentan terhadap ajakan seksual dan predasi dan cyber yang menggangu dan pelecehan.
Kritik terhadap klaim Internet bahwa perkembangan sosial anak-anak ditangkap melalui interaksi dengan internet, bahwa anak-anak menjadi korban oleh paparan yang tidak diinginkan untuk pornografi dan kebencian, dan bahwa mereka adalah sasaran empuk bagi predator seksual dan cyber-pengganggu.

APA YANG ANAK LAKUKAN DI INTERNET?

Sebagian besar anak-anak di Amerika Serikat dan Kanada telah mengakses Internet; lebih dari 95% yang telah online menjelang tahun 2003 (Yayasan Keluarga Kaiser, 2004; Kelompok Riset Environics, 2001) dan dekat pada 75% memiliki akses Internet di rumah mereka (Yayasan Keluarga Kaiser, 2004; Statistik Kanada, 2003). Penggunaan Internet adalah sebanding atau sedikit lebih rendah di negara-negara maju lainnya (misalnya, Livingstone dan Bober, 2005; penilaian Nielsen). Banyak anak-anak mengakses internet setidaknya sekali seminggu dari sekolah, rumah, atau perpustakaan, survei dari beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sampai dengan setengah dari anak-anak menghabiskan lebih dari satu jam di Internet per hari (Kelompok Riset Environics 2001: Roberts dkk, 2005).
Pada tahun 2001 survei Kanada untuk Jaringan Kesadaran Media (Kelompok Riset Environics , 2001), 15% pemuda di bawah usia 18 tahun ingat belajar menggunakan Internet di usia 7 tahun atau lebih muda. Dalam sebuah survei Amerika Serikat tahun 2003 dari orang tua, Rideout dkk (2003: lihat juga Calvert dkk 2005) menemukan bahwa anak-anak mulai mencari web sites tanpa pengawasan orang tua pada usia 4 tahun dan mengirim e-mail sendiri seawal usia 3 tahun.
Anak-anak menggunakan Web untuk mengakses sumber informasi melalui pencarian Web dan browsing yang lebih disukai Web site: berkomunikasi menggunakan e-mail, pesan singkat, dan diskusi, dan mengakses musik, video, dan permainan/games komputer (Kelompok Riset Environics 2001; Rideout dkk, 2003; Roberts dkk 2005). Anak-anak juga menggunakan pesan instan untuk berkomunikasi dengan teman-teman, seringkali paralel dengan bermain game komputer atau melakukan pekerjaan rumah (Shiu & Lenhart, 2004). Anak-anak paling sering berselancar di Web untuk permainan dan musik, tetapi mereka juga mencari informasi untuk laporan sekolah dan kepentingan pribadi (Kelompok Riset Environics, 2001; Lenhart dkk 2001).
Sebagai contoh, meskipun banyak anak menggunakan Hotmail (http://hotmail.com) atau Yahoo (http://mail.yahoo.com) akun tersedia untuk semua orang, layanan e-mail khusus anak-anak seperti KidMail (http://kidmail.net) dan SurfBuddies (http://www.surfbuddies.com) memberikan bebas spam, e-mail yang aman untuk biaya yang kecil. Yahooligans (http://yahooligans.com) dan Ask Jeeves untuk anak-anak (http://www.ajkids.com/) adalah direktori pencarian yang dirancang khusus untuk anak-anak.
Sejumlah perusahaan media, seperti Public Broadcasting Corporation (http://pbskids.org /), Warner Brothers (misalnya, http://harrypotter.com), dan Scholastic ( misalnya http://scholastic.com/kids/) telah mengembangkan informasi dan sumber daya permainan untuk pemirsa anak-anak mereka. Sebagian besar sumber daya ini benar-benar mandiri dan tidak mengandung hubungan situs off/salah; mereka yang termasuk dari hubungan/link situs-off memberikan peringatan sebelum anak mengklik ke link situs off.
Akhirnya, akses internet anak-anak dapat dikontrol melalui penggunaan program filtering, seperti Net Nanny (http://netnanny.com/) atau cyber sitter (http//www.Cybersitter.com/) dan browser anak-anak, seperti zExplorer (http://zxplorer.com/). Program-program komersial ini membatasi akses anak ke Internet, penyaringan spam, iklan, dan konten yang menentukan tidak pantas untuk anak-anak karena sulit untuk menentukan spam dan konten yang tidak patut.

PERHATIAN

Secara historis orang tua, guru, pembuat kebijakan, dan pers telah prihatin tentang efek buruk pada anak-anak tentang media baru pada anak-anak (Gackenbach & Ellerman, 1998; Paik, 2001: Wartella & Jennings 2000.). Komputer dianggap sebagai merampas anak-anak dari peluang pengembangan fisik dan sosial yang penting. Karena internet dapat diakses secara bebas, kritikus juga prihatin tentang anak-anak yang terkena masalah mereka tidak bisa memahami atau mengatasi, seperti pornografi dan kebencian. Akhirnya, mengingat anonimitas Internet, kritikus sekarang menjadi semakin khawatir tentang anak-anak menjadi korban predator seksual dan cyber pengganggu.

PENGEMBANGAN SOSIAL

Aspek-aspek pengembangan sosial membutuhkan anak-anak untuk berinteraksi dengan orang lain untuk membedakan diri dari orang lain, membandingkan karakteristik yang mendefinisikan diri mereka dengan orang-orang yang mendefinisikan orang lain dan mengembangkan kontrol diri. Para kritikus mengeluh bahwa penggunaan komputer mengarah ke isolasi sosial, yang sering mengakibatkan depresi dan gangguan mental lainnya. Mengingat bahwa banyak anak tertarik pada Internet di kamar tidur mereka (Yayasan Keluarga Kaiser, 2004), kekhawatiran ini mungkin berlaku.
Kraut dkk (1998) melaporkan hasil survei pengguna internet pertama kali sebagai bagian dari studi HomeNet longitudinal dilakukan tahun 1995-1998 mengenai dampak internet pada interaksi sosial. Pengguna internet pertama kali ini melaporkan penurunan dalam interaksi sosial dan peningkatan gejala depresi selama bulan pertama penggunaan internet, di samping itu, korelasi antara penggunaan internet dan isolasi dan tindakan depresi sedikit lebih tinggi untuk remaja dalam sampel dari mereka untuk orang dewasa. Kraut dkk (2002) mengikuti peserta HomeNet selama periode waktu yang lebih lama (tiga tahun sebagai lawan untuk 12-18 bulan) dan dampak negatif dari penggunaan internet telah menghilang. Dalam studi kedua, Kraut dkk (2002) menemukan yang mementingkan anak-anak dan orang dewasa melaporkan peningkatan yang lebih besar pada interaksi sosial dan harga diri sebagai fungsi dari peningkatan penggunaan internet.
Gross (2004) berpendapat bahwa, karena lebih banyak anak-anak lebih menggunakan Internet, lebih banyak teman-teman mereka akan juga, dan Internet akan benar-benar menjadi salah satu bentuk yang lebih untuk komunikasi dan interaksi. . Stern (2002) menganalisis Web site pribadi 'gadis remaja'. Stern berpendapat bahwa Internet memberikan kesempatan yang baik bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri mereka berkembang secara sosial dan seksual.
Pesan instant akan menjadi bentuk yang paling umum komunikasi di Internet (Kelompok Riset Environics, 2001: Ipsos-Reid, 2004, Law, 2004). Law menyurvei remaja antara usia 11 dan 19 tahun dan tidak menemukan hubungan antara konsep diri dan penggunaan pesan instant. Demikian pula Gross (2004) mensurvei remaja usia 11 sampai 16 tahun dan tidak menemukan hubungan antara jumlah waktu yang dihabiskan online dan ukuran kesepian, kecemasan sosial, depresi, atau kepuasan kehidupan sehari-hari.
Gross dkk (2002) menguji hubungan antara kesejahteraan dan kedekatan mitra pesan instan pada remaja berusia 11 - 13 tahun. Ybarra dkk (2005) menemukan bahwa anak-anak berusia 10-17 yang melaporkan gejala depresi yang signifikan (misalnya: pengalaman gangguan fungsional di sekolah, kebersihan pribadi, dan / atau kemanjuran diri) menghabiskan lebih banyak waktu pada internet di sekolah dan menggunakan e-mail lebih sering untuk komunikasi sosial daripada mereka yang dilaporkan lebih sedikit atau tanpa gejala depresi. Sampel mereka berasal dari suatu studi Amerika Serikat yang besar, survey Keselamatan Internet Pemuda, dilakukan pada tahun 1999 - 2000 dengan anak-anak berusia 10-17 tahun (Finkelhor dkk 2000) et. Wolak dkk (2002, 2003), dengan menggunakan sampel yang sama seperti Ybarra dkk, menemukan bahwa anak-anak yang melaporkan gejala depresi dan telah menjadi korban dalam beberapa cara mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat dengan orang yang mereka temui di internet daripada anak-anak yang tidak sebagai masalah.
Turkle (1995) berpendapat bahwa game dungeon multi-user memberikan kesempatan penting bagi orang untuk bereksperimen dengan diri yang berbeda dan, dengan demikian, memperbaiki konsep diri mereka sendiri. Subramanyam dkk (2004) menganalisis-suatu transkrip 30 menit dari chat room remaja yang terdiri dari 52 peserta yang berbeda. Subrahmanyam dkk menyimpulkan bahwa internet mampu menyediakan lingkungan sosial yang aman di mana remaja dapat mendiskusikan topik memalukan dan praktik hubungan sosial.
Suzuki dan Caizo berpendapat bahwa papan memungkinkan anak-anak untuk jujur membahas dan menerima dukungan sosial untuk masalah remaja yang memalukan. Peneliti lain juga berpendapat bahwa internet bisa menjadi sumber informasi yang penting dan dukungan untuk topik sosial yang tabu atau memalukan (Boies dkk 2004; Gray dkk, 2005 Longo dkk 2002).
Greenfield (2004a) bagaimanapun, memperingatkan bahwa kebebasan berekspresi di chat room mungkin tidak selalu berhubungan dengan perkembangan positif. Dia mengeksplorasi penggunaan anak-anak dari berbagai bentuk komunikasi internet (misalnya, chat yang layak dan tidak layak, pesan instan) dan komunikasi banyak yang diidentifikasi mempromosikan perselingkuhan seksual, rasisme, dan prasangka.
Greenfield (2004a), penelitian dalam pengembangan sosial dan Internet dilakukan sampai saat ini menunjukkan bahwa, daripada membawa anak-anak ke isolasi sosial dan kekurangan, internet dapat menyediakan lingkungan yang positif bagi perkembangan sosial.

PENGUNGKAPAN YANG TIDAK DIINGINKAN PADA PORNOGRAFI
DAN KEBENCIAN

Pornografi adalah lazim di seluruh Internet; gambar-gambar porno yang tersedia di jutaan web site, dan melalui ratusan ribu sumber Internet. Anak-anak mengakses pornografi dalam banyak hal, beberapa disengaja dan banyak yang tidak disengaja. Anak dapat sengaja mengakses pornografi meskipun Web search (misalnya mencari seks di Google) atau mengetik URL mungkin (http://www.sex.com misalnya). Distributor pornografi dapat mengirimkan e-mail spam dengan konten pornografi atau mengundang penerima untuk mengakses pornografi.
Penyedia pornografi juga memperoleh atau menggunakan domain web yang umum terdengar bernama (http://whitehouse.com digunakan untuk menjadi situs pornografi hard core - URL yang benar untuk Gedung Putih adalah http://whitehouse.gov). Pornografi juga memanipulasi ejaan URL untuk memperkenalkan anak-anak untuk pornografi (beberapa salah ejaan yang umum untuk http://Disney.com pernah membawa ke Web sites porno).
Mitchell dkk (2003a) menganalisis data dari Survei Keamanan Internet Pemuda (Finkelhor dkk 2000). Seperempat anak-anak yang diwawancara menunjukkan mereka telah sengaja diekspos ke pornografi, 75% melalui web sites dan 25% melalui e-mail atau pesan instan. Meskipun beberapa anak tertekan dengan paparan mereka, kebanyakan anak hanya menolak materi pornografi. . Sebuah badan penelitian yang besar menunjukkan adanya hubungan untuk remaja dan dewasa muda antara melihat pornografi dan terlibat dalam dan/atau menyimpang perilaku berisiko (bandingkan, Greenfield, 2004b) tetapi penelitian ini adalah korelasional sifatnya.
Pada akhirnya, kekhawatiran tentang konsekuensi yang merugikan dari paparan yang sengaja atau bertujuan untuk pornografi di internet mungkin hanya sebuah mitos perkotaan (Potter & Potter, 2001). Gerstenfeld dkk (2003) melakukan analisis isi situs internet yang diselenggarakan oleh nasionalis kulit putih, neo-Nazi, skinhead, Ku Klux Klan, identitas Kristen, penolakan Holocaust, dan kelompok kebencian lainnya.
Meskipun Turpin-petrosino (2002) menemukan bahwa sangat sedikit siswa SMA dilaporkan kontak dengan kelompok kebencian melalui internet, Gerstenfeld dkk (2003) berpendapat bahwa kehadiran Internet dari kelompok ini terlalu halus untuk kebanyakan anak-anak dan remaja untuk dimengerti. Premis ini didukung oleh penelitian Lee dan Leet (2002) pada persuasi situs kebencian dengan remaja. Remaja berusia 13-17 tahun, web pages yang dilihat dimodifikasi dari sumber daya web yang benar-benar ekstrimis, kemudian menyelesaikan survei segera yang mengikuti setelah tinjauan pages/halaman dan dua minggu kemudian untuk menguji persuasi halaman yang berbeda.
Temuan Lee dan Leet mengenai efek persuasif pesan implisit pada remaja yang naif sangat penting mengingat bahwa kelompok-kelompok ekstremis menggunakan internet untuk merekrut anggota baru (Turpin-Petrosino, 2002).
Predasi dan bullying (mengganggu)
Finkelhor dkk (2000; Mitchell dkk., 2000) menganalisis pertanyaan tentang ajakan seksual dari Survei Keselamatan Internet Pemuda 1999-2000. Hampir 20% dari responden berusia 10-17 melaporkan penerimaan suatu ajakan seksual yang tidak diinginkan melalui e-mail atau chatting.
Anak-anak yang lebih tua, berusia 14-17 tahun, dalam Finkelhor dkk (2000; Mitchell dkk., 2001) studi melaporkan ajakan yang lebih sering daripada anak-anak muda, berusia 10-13 tahun, dan dua kali banyak perempuan melaporkan ajakan dari anak laki-laki. Risiko juga lebih tinggi untuk anak-anak yang melaporkan lebih sering menggunakan internet dan terlibat dalam perilaku berisiko yang berpotensi di Internet seperti memposting informasi pribadi, menggunakan sugestif secara seksual alias di chat room, berbicara tentang seks dengan seseorang yang bertemu hanya online, dan mengunjungi web sites porno. Karakteristik keluarga bermasalah dan kehidupan pribadi dan perilaku berisiko yang Mitchell dkk temukan dalam kaitannya dengan predasi internet, juga mencirikan anak-anak dan remaja yang ditargetkan oleh predator seksual offline (lih. Downbrowski dkk 2004).
Finkelhor dkk (2000; Mitchell dkk, 2001) juga menemukan bahwa kontrol seperti aturan orang tua dan perangkat lunak penyaringan tidak terkait dengan laporan ajakan seksual. Umumnya, predator internet menggunakan berbagai teknik canggih untuk mengumpulkan informasi tentang dan mendengarkan secara diam-diam pada korban potensial (Downski dkk 2004; McGrath & Casey, 2002). Semakin maju pendekatan teknologi termasuk menggunakan perangkat lunak “sniffer” untuk menguping komunikasi anak dan menyusup komputer anak melalui virus cacing dan Trojan. Jadi, sekalipun anak hadir untuk dan mematuhi aturan orangtua untuk tidak memberikan informasi pribadi, seorang predator internet yang cerdik mungkin dapat memperoleh informasi yang melalui alat klandestin dan jahat.
Hanya setengah dari anak-anak yang melaporkan ajakan seksual dalam Finkelhor dkk (2000, Mitchell dkk, 2001) penelitian melaporkan kejadian kepada seseorang dan hanya separuh dari mereka dilaporkan kepada orangtua. Hanya 25% dari anak-anak dilaporkan menjadi marah tentang ajakan ini dan terutama anak-anak muda dalam studi tersebut. Meskipun organisasi seperti Cyber Tipline dan Cybertip.ca tidak ada pada saat Survei Keamanan Internet Pemuda, beberapa orang tua atau anak dilaporkan mengetahui bahwa mereka harus melaporkan episode Internet yang menjengkelkan untuk Penyedia Layanan Internet mereka atau ke instansi penegak hukum.
Wolak dkk (2003a) menganalisis penangkapan yang dilakukan di Amerika Serikat selama 2000-2001 untuk kejahatan seksual internet yang melibatkan anak-anak dan menemukan 508 kasus di mana sebuah predator diduga menggunakan internet untuk memikat anak dan, selanjutnya 644 kasus menyamar di mana seorang yang diduga keras predator yang menggunakan internet untuk memikat agen penegakan hukum yang berpose sebagai seorang anak. Mitchell dkk. (2005) menyimpulkan bahwa internet telah meningkatkan kemampuan lembaga penegak hukum untuk mendeteksi dan mencegah kejahatan terhadap anak-anak.
Pada tahun 2004, Gary Brolsma membuat video Flash saat lip syncing dan menari di kursinya di depan Web camnya dan mempostingnya di Web. Survei Keamanan Internet Pemuda juga menanyakan anak-anak tentang pelecehan online dan bullying (mengganggu). Finkelhor dkk (2000) melaporkan bahwa 6% dari responden mengindikasikan mereka telah dilecehkan di internet, dengan anak-anak yang lebih tua kemungkinan menjadi target dari pelecehan.
Ybarra dkk (2004a) menganalisis karakter yang dikaitkan dengan korban pelecehan Internet dari Survei Keamanan Internet Pemuda. Sepertiga dari anak-anak yang dilaporkan telah dilecehkan menunjukkan mereka sangat kecewa dengan insiden pelecehan itu. Pria yang melaporkan gejala yang lebih depresif (misalnya menurunkan perasaan efikasi/kemanjuran diri, kesulitan menyelesaikan pekerjaan sekolah, kesulitan terlibat dalam kebersihan pribadi) lebih mungkin melaporkan pelecehan daripada yang laki-laki yang melaporkan beberapa gejala depresif -hubungan ini tidak ditemukan dengan perempuan yang melaporkan pelecehan.
Ybarra dan Mitchell (2004b) menganalisis karakteristik anak-anak dari Survei Keamanan Internet Pemuda yang melaporkan pelecehan lain pada Internet. Ybarra dan Mitchell menemukan bahwa 15% responden untuk Survei Keamanan Internet Pemuda mengindikasikan bahwa mereka telah membuat komentar yang jahat atau kasar kepada yang lain dan 1 % menggunakan internet untuk mempermalukan atau melecehkan seseorang di tahun lalu. Ybarra dan Mitchell (2004a) menemukan bahwa saat banyak gangguan internet mungkin jadi suatu ekstensi dari gangguan di halaman sekolah, beberapa penyerang nampak mengganggu lainnya hanya pada internet. Berdasarkan hasil mereka, dan bersamaan dengan perhatian Greenfield (2004a), Ybarra dan Mitchell berpendapat bahwa anonimitas dari internet mungkin memungkinkan beberapa anak untuk mengadopsi suatu pribadi yang lebih agresif daripada mereka mengekspresikan kehidupan yang nyata.

MENJADI “INTERNET-YANG BIJAK”

Undang-undang Online Perlindungan Anak (COPA) disahkan oleh Kongres Amerika Serikat pada tahun 1998, melarang penyedia layanan Internet komersial dari mendistribusikan konten yang pantas untuk anak di bawah umur.
Undang-undang Perlindungan Internet Anak-Anak (CIPA.), yang diluluskan oleh Kongres Amerika Serikat pada tahun 2000, membutuhkan sekolah dan perpustakaan umum untuk menginstal perangkat lunak penyaringan pada semua komputer dalam rangka untuk ia memenuhi persyaratan untuk pendanaan federal. Meskipun sebagian CIPA telah dimatikan oleh Mahkamah Agung, berbagai negara telah memberlakukan undang-undang yang sama.
Richardson dkk (2002) menemukan bahwa penyaringan perangkat lunak secara signifikan memblok akses ke topik kesehatan yang penting untuk anak-anak dan remaja, mulai dari kondom dan penyakit menular seksual sampai diet dan depresi. Demikian pula laporan konsumen (“Perangkat Lunak Penyaringan.” 2005) studi tentang penyaringan perangkat lunak menemukan bahwa perangkat lunak yang paling diblokir pornografi sangat baik tetapi juga pendidikan seks situs diblokir dan isu gender.
Banyak organisasi keselamatan anak memberikan panduan dan sumber daya bagi orangtua dan anak. WebAware (http://www.bewebaware.ca /english/default.aspx) termasuk Checklist internet umum untuk anak-anak usia yang berbeda. Di samping itu penilaian konten, 'WebAware mendorong anak-anak untuk mempertimbangkan apakah mereka menulis pesan kasar atau memberikan informasi pribadi di Internet. WebAware juga mencakup tips keamanan bagi orangtua anak-anak dari berbagai usia, seperti menggunakan mesin ramah anak dengan anak berusia 5 sampai 7 tahun dan remaja mendorong untuk masuk hanya moderator chat room. SafeKids.com (http://safekids.com) dan SafetyTeens.com (http://wwwsaleteens.com) menyediakan sumber daya yang sama untuk anak-anak dan orang tua. Cyber Angels (http://www.cyherangels.org/) menyediakan berbagai sumber daya di berbagai kejahatan internet (misalnya, pornografi anak, pencurian identitas) untuk orang tua dan pendidik serta formulir online untuk melaporkan dugaan kasus pornografi anak.
Beberapa organisasi termasuk permainan yang amana dan kuis untuk anak-anak. Dalam ID the Creep (http://www.idthecreep.com/), yang dikembangkan oleh Pusat Nasional untuk Anak Hilang dan Exploit, anak-anak terlibat dalam simulasi e-mail, chatting, dan instan Pesan dan mengidentifikasi situasi yang berisiko dan predator. Media Awareness Network (http://www.media-awareness.ca/english /special_ inisiatif / game / index cfm.) Telah mengembangkan sejumlah permainan yang tersedia untuk anak-anak, mulai dari Playground Privasi: Petualangan Pertama Tiga Cyberpigs Kecil, permainan untuk anak-anak, usia 8-10 tahun, tentang teknik pemasaran dan perlindungan privasi, untuk Joe Cool / Joe Fool, kuis bagi remaja tentang web surfing yang aman.
NetSmartz (http://netsinartz.org), dikembangkan oleh sebuah inisiatif bersama dari Pusat Nasional untuk Anak Hilang dan Tereksploitasi dan Boys and Girls Club of America, adalah sumber pelatihan online yang mencakup daftar periksa evaluasi, tips, sumber daya orangtua, permainan , dan kuis. Dalam evaluasi sumber daya (Cabang Associates, 2002), anak-anak dari usia 6 sampai 18 meningkatkan pengetahuan mereka tentang keamanan internet melalui berinteraksi dengan sumber daya dan lebih dari tiga-perempat remaja mengindikasikan bahwa mereka akan mengubah perilaku mereka di Internet sebagai hasil dari apa yang telah mereka pelajari melalui NetSmartz.

NAMA KELOMPOK :
1. ELSA MARISSA (13509429)
2. ESTY EKAWATI (13509953)
3. PRAHESTI EKA R. (13509945)
4. PUTRI KANTI (10509079)
5. PUTRI MAHARANI (16509271)

Rabu, 22 September 2010

Pengaruh Internet dalam Bidang Pendidikan dilihat dari sisi Psikologi

Saat ini, hampir masyarakat di dunia, termasuk Indonesia di dalamnya. Internet sangat memegang peranan penting di dalam semua sector dan di berbagi aspek kehidupan saat ini. Sehingga, pengaruh dan dampak yang di timbulkan sangatlah besar buat kemaslahatan semua orang. Dan pengaruh ini tidak memandang elemen, baik miskin, kaya, anak- anak maupun dewasa. Tapi untuk saat ini, akan kita bahas pada sisi education atau pendidikan.


Pendidikan terdiri dari banyak macamnya,mulai dari pendidikan moral, pendidikan sosial, pendidikan agama dan lainnya. Dan adanya internet, mempengaruhi sektor pendidikan tersebut, secara otomatis sistem, proses dan hasilnya sangat juga terdampak internet. Sistem pengajaran yang sekarang ini ngetrend di internet, dan banyak di tiru oleh para pengajar sekarang, dengan asumsi, mereka mengajar dengan sistem yang berkembang sesuai yang berjalan saat itu. Begitu juga dengan bahan yang di ajarkan, akan mengalami revolusi dari waktu ke waktu, di sesuaikan dengan ilmu yang berkembang dan banyak beredar di internet, ini di maksudkan agar bahan ajaran tidak akan ketinggalan dari negara lain yang telah modern.

Itulah pengaruh internet di dunia pendidikan secara langsung dan tidak langsung terasa dampaknya. Sekarang ini banyak sekali situs porno yang menyediakan film- film, gambar dan cerita porno, yang berbahaya bagi bagi para anak didik. Oleh karenanya, baiknya kita sebagai konsumen harus waspada oleh dampak kemajuan teknologi sekarang ini.

DAMPAK INTERNET POSITIF DAN NEGATIF INTERNET SECARA UNIVERSAL :

1. Dampak Positif dan Negatif Akibat Perkembangan Teknologi Internet
Internet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Untuk bergabung dalam jaringan ini, satu pihak (dalam hal ini provider) harus memiliki program aplikasi serta bank data yang menyediakan informasi dan data yang dapat di akses oleh pihak lain yang tergabung dalam internet.
Pihak yang telah tergabung dalam jaringan ini akan memiliki alamat tersendiri (bagaikan nomor telepon) yang dapat dihubungi melalui jaringan internet. Provider inilah yang menjadi server bagi pihak-pihak yang memiliki personal komputer (PC) untuk menjadi pelanggan ataupun untuk mengakses internet.

2. Dampak Positif Internet
a. Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.
b. Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.
d. Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi.
e. Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain